Surat pertama
Terangkum dalam takdir, setiap ketetapan dari perjalanan waktu yang bisu
Terkumpul dalam ingatan, dari setiap kejadian yang telah dilalui untuk menjadi guru tanpa buku.
Dan aku hanya bisa melihat sepi disekitarku, meski ragaku tertimbun oleh debu, telingaku dipenuhi oleh pekik kemaksiatan dan kulitku tergoles oleh api nafsu.
Al Awallu... kucoba merengkuhmu dalam rintihan doa dan kumpulan harapan...
Doa dari dunia seberang
Dulu...
Ketika mimpi itu masih bergelayut tinggi diawan, kau selalu menemuiku.
Dulu...
Ketika mata sepi yang tajam selalu menatapmu, kau selalu menunggu hadirku.
Dulu...
Ketika sapa hanya berupa retorika,engkau selalu mencariku.
Dulu...
Ketika tanya selalu tanpa jawab, engkau selalu menemani malam.
Kini...
Doa doa itu hanya sebuah bait bait usang dari percakapan percakapan jalang.
Kini...
Baris abjad itu hanya berupa goresan goresan luapan ketidakadilan yang terbuang.
Surat kedua
TERAKHIR KALI AKU MELIHATNYA
KU MERASAKAN MALU YANG TAK TERKIRA
TERAKHIR KALI AKU MERENUNG TENTANGNYA
AKU MERASAKAN KEHAMPAAN YANG TIADA TARA..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar